Bila menilik sejarah zaman nabi Muhammad SAW, setiap surat yang beliau kirimkan selalu disertai stempel bertuliskan Rasul Allah.

Stempel tersebut menjadi bukti otentik bahwa surat tersebut memang ditulis oleh Rasulullah SAW.

Zaman sekarang kita menggunakan tanda tangan sebagai bukti otentik bahwa sebuah surat/pernyataan memang hasil tulisan sendiri atau telah disetujui.

Termasuk sebuah perjanjian, membutuhkan tanda tangan tanda seseorang setuju tanpa paksaan.

Dengan kata lain, tanda tangan adalah pernyataan dari diri sendiri, bahwa tanda tangan adalah “saya”.

Dari pengalaman saya menganalisa tanda tangan, ternyata tanda tangan adalah persepsi seseorang tentang dirinya sendiri.

Bagaimana ia menyimpan harapan/keinginan/hasrat/energi/persepsi tentang kehidupan, terekam dalam tanda tangan.

“Aku adalah seorang pejuang. Bila mau sukses ya harus berjuang, tak ada makan siang gratis, semua melalui proses yang tak mudah.”

Dia meyakini bahwa hidup sebagai proses berjuang sebagai hasil pola asuh ayahnya yang juga sosok pekerja keras.

Saya temukan dari tanda tangan yang menarik garis dari bawah, sejajar atau lebih dalam dari rata-rata dasar tanda tangan.

Itu sebabnya, dia selalu dalam posisi berjuang, ada saja masalah yang dia selesaikan. Lagi pula berjuang butuh pengorbanan bukan? Makanya hidupnya banyak pengorbanan.

“Aku memilih melampiaskan hasratku dengan bebas selama ada kesempatan dan tak boleh siapa pun menghalangiku.”

Pernyataan diatas saya temukan dari tanda tangan beberapa lelaki dewasa baik yang sudah menikah maupun lajang.

Akibatnya dia hidup dengan banyak perempuan, melampiaskan hasrat seperti makan siang gratis alias kesempatan dan selalu merasa lapar.

“Hidup itu mengecewakan dan aku memilih untuk kuat menjalaninya.”

Kalimat diatas saya temukan dari tanda tangan yang akhir garisnya berbentuk vertikal tapi penghujam ke bawah.

Tidak sadar ia menarik orang/situasi/keadaan yang membuatnya merasa kecewa, tapi ia menghibur diri dan memendamnya.

Lantas, apakah salah tanda tangan?

Tanda tangan terbentuk atas persepsi/keyakinan seseorang sama seperti lukisan terbentuk atas isi kepala dan hati seseorang, hasil dari pola asuh orang tuanya.

Tapi saya akui, melatih membentuk tanda tangan baru yang lebih baik seperti berlatih melukis pemandangan indah.

Hati dan pikiran akan terarah sendiri menyesuaikan dan lama-lama terpola hanya mengakses pikiran dan perasaan yang menghasilkan lukisan indah.

Lantas bagaimana tanda tangan yang baik? Tulislah nama sendiri, walau saya akui Anda butuh mentor.

Sebab emosi lama tak sadar akan mempengaruhi pola tanda tangan baru. Bagi yang tidak paham teori simbol-simbol tanda tangan, seseorang bisa saja tak sadar bahwa persepsi/keyakinan negatifnya masih ada.

Seperti seorang mahasiswi yang sangat pendiam dan pemalu kemudian mengganti tanda tangan dengan namanya sendiri, dia mengeluh jadi banyak bicara dan suka “nyeletuk” penjelasan dosen.

Saya lihat huruf pertama pada tanda tangan barunya terlalu tinggi, jadi saya sarankan untuk diturunkan agar lebih proporsional. Akhirnya dia bisa menahan hasrat bicaranya dengan tetap percaya diri.

Jadi tanda tangan itu apa sih? Kok bisa sedahsyat itu pengaruhnya? Saya menyebutnya, persepsi pikiran bawah sadar seseorang atau afirmasi seseorang.

Wallahu’alam

Depok, 11 Maret 2019

Ahmad Sofyan Hadi
Founder BehinDsign: Kelas Online Analisa Tanda Tangan


2 Comments

Ernawati · August 28, 2020 at 11:17 am

Pengen ikutan kelasnya

    Ahmad Sofyan Hadi · September 16, 2020 at 10:47 am

    Silahkan cek email ya

Leave a Reply to Ernawati Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.